Scroll Berjam-jam Bisa, Baca Al-Qur’an Beberapa Menit Kok Berat?
Coba jujur sebentar.
Pernah tidak, niat awalnya cuma ingin membuka media sosial selama lima menit?
“Sebentar saja.”
Lalu satu video lewat.
Swipe.
Video berikutnya muncul.
Swipe lagi.
Ada konten yang menarik. Berhenti sebentar.
Setelah itu muncul konten lain.
Swipe.
Swipe.
Swipe.
Tiba-tiba waktu sudah berlalu setengah jam.
Kemudian satu jam.
Kadang bahkan dua atau tiga jam.
Yang aneh, kita tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang melelahkan.
Namun begitu mushaf dibuka dan kita berniat membaca Al-Qur’an hanya beberapa menit, rasanya berbeda.
Mata mulai berat.
Pikiran melayang.
Tangan ingin mengambil HP lagi.
Baru beberapa ayat sudah muncul keinginan untuk berhenti.
Lalu pertanyaan itu muncul:
“Kenapa scroll tiga jam terasa ringan, sementara membaca Al-Qur’an tiga menit terasa berat?”
Pertanyaan ini memang sederhana.
Tetapi jawabannya bisa membawa kita kepada sebuah muhasabah yang cukup dalam.
Sebab mungkin persoalannya bukan semata-mata malas membaca Al-Qur’an.
Bisa jadi, ada kebiasaan lain yang selama ini diam-diam sedang membentuk cara kita menggunakan perhatian.
1. Bukan Hanya Soal Waktu, tetapi Soal Ke Mana Perhatian Kita Pergi
Mari kita mulai tanpa menyalahkan diri sendiri.
Tidak semua orang yang sulit berkonsentrasi saat membaca Al-Qur’an berarti hatinya tidak mencintai Al-Qur’an.
Iman manusia mengalami naik dan turun. Fokus pun demikian.
Ada hari ketika membaca satu halaman terasa ringan.
Ada pula hari ketika baru membuka mushaf, pikiran sudah ke mana-mana.
Itu manusiawi.
Namun ada hal yang tidak boleh kita abaikan: kebiasaan membentuk pola.
Kalau setiap merasa bosan kita langsung mengambil HP, apa yang terjadi?
Bosan sedikit → HP.
Menunggu sebentar → HP.
Makan → HP.
Sebelum tidur → HP.
Bangun tidur → HP.
Bahkan ketika sedang tidak ada sesuatu yang harus dilakukan, tangan tetap mencari layar.
Lama-kelamaan, kita terbiasa dengan rangsangan yang cepat.
Satu konten belum selesai, sudah ada konten lain.
Satu informasi belum dicerna, muncul informasi berikutnya.
Satu video selesai, video baru langsung tersedia.
Sementara membaca Al-Qur’an membutuhkan sesuatu yang berbeda.
Kita perlu berhenti.
Menenangkan diri.
Membaca.
Memperhatikan.
Memahami.
Kemudian, kalau mampu, merenungkan maknanya.
Maka pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar:
“Kenapa saya malas mengaji?”
Tetapi:
“Apa yang selama ini saya latih setiap hari?”
2. Al-Qur’an Mengajarkan Bahwa Waktu Tidak Pernah Netral
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Referensi: Al-Qur’an, QS. Al-‘Ashr: 1–3; Tafsir Jalalain, tafsir Surat Al-‘Ashr. Penjelasan Jalalain mengaitkan al-‘ashr dengan masa/waktu dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang menghimpun iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran.
Perhatikan baik-baik.
Allah tidak mengatakan manusia rugi karena tidak memiliki banyak harta.
Tidak pula karena follower-nya sedikit.
Bukan karena rumahnya sederhana.
Bukan karena hidupnya tidak terlihat mewah.
Yang Allah tekankan adalah masa yang dijalani manusia dan bagaimana masa itu diisi.
Waktu terus berjalan, entah kita mengisinya dengan sesuatu yang bernilai atau tidak.
Karena itu, ketika tiga jam habis untuk scrolling tanpa tujuan, persoalannya sebenarnya lebih besar daripada sekadar:
“Saya terlalu lama bermain HP.”
Ada bagian dari umur kita yang baru saja berlalu.
Dan ia tidak akan kembali.
3. Waktu Luang Bukan Sekadar “Waktu Kosong”
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Latin:
Ni‘matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās: ash-shiḥḥatu wal-farāgh.
Artinya:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
Referensi: Shahih al-Bukhari, Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412. Derajat: Shahih.
Ada sesuatu yang menarik dari hadis ini.
Rasulullah ﷺ menyebut waktu luang sebagai nikmat.
Artinya, waktu kosong bukan berarti waktu yang tidak berharga.
Justru karena ia merupakan nikmat, kita perlu memperlakukannya dengan baik.
Tentu, Islam tidak mengajarkan bahwa setiap menit harus diisi dengan membaca Al-Qur’an atau aktivitas ibadah formal.
Manusia perlu bekerja.
Tidur.
Beristirahat.
Bercengkerama dengan keluarga.
Menikmati hal-hal yang mubah.
Semua itu memiliki tempatnya.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika hiburan mengambil porsi begitu besar sampai-sampai amal yang penting selalu mendapatkan sisa.
Al-Qur’an nanti.
Shalat nanti.
Belajar nanti.
Orang tua nanti.
Istirahat nanti.
Tetapi scrolling sekarang.
Kalau pola ini terus berulang, kita perlu berhenti dan bertanya:
“Sebenarnya siapa yang sedang mengatur waktu saya?”
4. Kenapa Scrolling Bisa Terasa Begitu Ringan?
Ada alasan sederhana yang bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari.
Scrolling tidak selalu meminta banyak usaha dari kita.
Geser.
Lihat.
Geser.
Lihat.
Kalau tidak menarik, lewatkan.
Kalau menarik, berhenti.
Selesai satu konten, konten lain sudah menunggu.
Nyaris tidak ada jeda.
Berbeda dengan membaca Al-Qur’an.
Kita perlu mengambil mushaf.
Duduk.
Membaca ayat.
Menjaga perhatian.
Kalau ingin lebih memahami, kita perlu membaca terjemahannya.
Kalau ingin mentadabburi, kita perlu berhenti pada makna dan pesan ayat.
Dengan kata lain, membaca Al-Qur’an mengajak kita hadir, sedangkan scrolling sering kali membuat kita sekadar bereaksi terhadap apa yang muncul di layar.
Karena itu, setelah terbiasa dengan konten yang cepat berganti, duduk tenang membaca Al-Qur’an mungkin terasa tidak mudah.
Tetapi jangan salah memahami hal ini.
Berat bukan berarti tidak mungkin.
Dan sulit bukan berarti harus ditinggalkan.
Justru di situlah latihan dimulai.
5. Jangan Menunggu “Mood” Baru Membaca Al-Qur’an
“Kalau nanti sudah mood, saya baca.”
Kalimat seperti ini terdengar masuk akal.
Masalahnya?
Mood tidak punya jadwal tetap.
Hari ini semangat.
Besok malas.
Lusa sibuk.
Hari berikutnya mengantuk.
Kalau membaca Al-Qur’an selalu menunggu perasaan nyaman, kita akan mudah berhenti setiap kali keadaan hati berubah.
Karena itu, cobalah membangun kebiasaan yang kecil.
Tidak perlu langsung satu juz.
Bisa dimulai dengan:
- satu halaman setelah Subuh;
- beberapa ayat setelah Maghrib;
- satu halaman sebelum tidur;
- lima menit setelah shalat;
- atau waktu khusus setiap hari tanpa HP.
Target awalnya bukan membuat diri terlihat rajin.
Targetnya jauh lebih sederhana:
membiasakan hati kembali akrab dengan Al-Qur’an.
Sebab sesuatu yang dilakukan berulang-ulang perlahan menjadi bagian dari kehidupan.
6. Al-Qur’an Tidak Perlu “Bersaing” dengan Media Sosial
Ada pemikiran yang kadang muncul:
“Kalau saya sanggup scrolling tiga jam, berarti saya juga harus membaca Al-Qur’an tiga jam.”
Tidak harus begitu.
Jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai pesaing media sosial.
Al-Qur’an bukan hiburan yang harus mengalahkan algoritma dalam menarik perhatian.
Al-Qur’an adalah kalam Allah dan petunjuk bagi kehidupan manusia.
Yang perlu diperbaiki bukan dengan membandingkan durasi secara mentah.
Yang perlu diperbaiki adalah prioritas.
Kalau hari ini kita baru mampu membaca beberapa ayat dengan tenang, jangan remehkan.
Baca.
Besok ulangi.
Lusa lanjutkan.
Kalau mampu menambah, tambahkan.
Jangan membuat target yang begitu tinggi sampai akhirnya kita sendiri yang meninggalkannya.
Sedikit bukan berarti tidak berarti.
Yang kecil pun bisa menjadi awal.
7. Tidak Semua yang Muncul di Layar Layak Mendapat Perhatian Kita
Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Latin:
Min ḥusni islāmil-mar’i tarkuhu mā lā ya‘nīh.
Artinya:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi dan dicantumkan Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin sebagai hadis hasan.
Coba bawa pesan hadis ini ke dunia digital.
Apakah semua video harus ditonton?
Tidak.
Apakah semua komentar harus dibaca?
Tidak.
Apakah semua perdebatan harus diikuti?
Tidak.
Apakah semua kehidupan orang lain perlu kita ketahui?
Tidak.
Apakah setiap notifikasi harus langsung dijawab?
Juga tidak.
Kadang-kadang menjaga waktu bukan perkara rumit.
Cukup:
scroll, lihat sekilas, lalu lewatkan.
Dengan begitu, kita bukan hanya mengurangi screen time.
Kita sedang belajar mengambil kembali kendali atas perhatian.
8. Bisa Jadi Masalahnya Bukan Tidak Punya Waktu
Coba bayangkan situasi ini.
Kita sedang membaca Al-Qur’an.
Baru beberapa ayat.
Kemudian pikiran berkata:
“Cek WhatsApp sebentar.”
HP dibuka.
Ada satu pesan.
Balas.
Setelah itu melihat status.
Lalu membuka Instagram.
Kemudian muncul satu video.
“Sebentar saja.”
Lanjut TikTok.
Lalu YouTube.
Ketika sadar, satu jam sudah berlalu.
Mushaf masih terbuka.
Ayat yang tadi dibaca pun sudah tidak lagi diperhatikan.
Di titik seperti ini, mungkin kita perlu mengganti pertanyaan.
Bukan:
“Kenapa saya tidak punya waktu membaca Al-Qur’an?”
Tetapi:
“Ke mana perhatian saya selama ini saya berikan?”
Karena terkadang kita bukan benar-benar kekurangan waktu.
Kita hanya terlalu mudah menyerahkan waktu kepada hal-hal yang datang silih berganti di layar.
9. Umar bin Khattab dan Seni Menghisab Diri
Ada sebuah atsar yang masyhur dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
Artinya:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.”
Referensi: Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, no. 633.
Atsar tersebut adalah atsar sahabat, bukan hadis Nabi ﷺ.
Nasihat Umar ini sangat relevan jika diterapkan pada kehidupan digital.
Sebelum tidur, kita biasanya mengecek banyak hal.
Baterai berapa persen?
Pesan sudah dibalas semua?
Ada notifikasi baru?
Screen time berapa jam?
Sekarang tambahkan beberapa pertanyaan lain:
“Hari ini HP saya membawa saya ke mana?”
Apakah lebih dekat dengan ilmu?
Lebih dekat dengan keluarga?
Lebih dekat dengan Al-Qur’an?
Atau justru lebih jauh dari semua itu?
Berapa banyak waktu untuk pekerjaan?
Berapa banyak untuk belajar?
Berapa banyak untuk membaca Al-Qur’an?
Dan berapa banyak yang lenyap tanpa tujuan yang jelas?
Inilah bentuk sederhana dari muhasabah.
Bukan menyiksa diri.
Bukan pula terus-menerus merasa bersalah.
Tetapi berani melihat diri sendiri dengan jujur.
10. Jangan Jadikan HP Sebagai Kambing Hitam
Kita juga perlu adil.
HP bukan musuh.
Teknologi bukan otomatis buruk.
Perangkat yang sama bisa digunakan untuk hal yang sangat berbeda.
Dengan HP, seseorang bisa membaca Al-Qur’an.
Mendengarkan kajian.
Mempelajari bahasa Arab.
Membaca kitab.
Menghubungi orang tua.
Bekerja.
Mencari nafkah.
Bersedekah.
Menyebarkan ilmu.
Membantu orang lain.
Jadi persoalannya bukan:
“HP itu baik atau buruk?”
Lebih tepat jika kita bertanya:
“Apa yang saya lakukan dengan HP tersebut?”
Alatnya boleh sama.
Orangnya berbeda.
Kebiasaannya berbeda.
Tujuannya berbeda.
Maka hasilnya pun bisa berbeda.
11. Lima Pertanyaan untuk Menilai Kebiasaan Scrolling
Tidak perlu buru-buru menyebut diri sendiri “kecanduan”.
Mulailah dengan muhasabah sederhana.
1. Apakah tangan saya otomatis mencari HP ketika bosan?
Sedikit bosan, langsung membuka layar.
Sedikit menunggu, langsung scrolling.
Jika iya, perhatikan polanya.
2. Apakah lima menit hampir selalu berubah menjadi lebih lama?
Niat awalnya sebentar.
Ternyata setengah jam.
Kadang satu jam.
3. Apakah saya sulit menikmati waktu tanpa layar?
Ketika tidak ada HP, terasa ada sesuatu yang kurang.
4. Apakah membaca Al-Qur’an selalu mendapatkan sisa waktu?
Media sosial didahulukan.
Al-Qur’an menunggu.
Pekerjaan selesai, scrolling.
Al-Qur’an nanti.
5. Setelah scrolling lama, apakah hati benar-benar merasa lebih baik?
Ini pertanyaan yang menarik.
Sebab terkadang kita menghabiskan waktu berjam-jam di layar, tetapi setelahnya justru merasa kosong.
Kalau demikian, mungkin sudah waktunya berhenti sebentar.
Tarik napas.
Letakkan HP.
Lihat kembali ke mana perhatian kita selama ini pergi.
12. Bagaimana Mengembalikan Kebiasaan Membaca Al-Qur’an?
Tidak perlu membuat perubahan yang ekstrem.
Perubahan kecil justru sering lebih mudah dipertahankan.
1. Coba “Al-Qur’an sebelum scrolling”
Sebelum membuka media sosial, baca beberapa ayat terlebih dahulu.
Ini bukan berarti sebuah kewajiban syariat khusus.
Anggap sebagai strategi membangun kebiasaan.
HP belum dibuka.
Mushaf dulu.
Beberapa ayat saja.
2. Letakkan mushaf di tempat yang mudah terlihat
Jangan simpan mushaf di tempat yang membuat kita harus mencarinya setiap kali ingin membaca.
Buat akses menuju Al-Qur’an menjadi mudah.
3. Kurangi notifikasi yang tidak penting
Tidak semua bunyi dari HP membutuhkan respons.
Semakin sedikit gangguan, semakin mudah perhatian dijaga.
4. Buat waktu bebas layar
Tidak perlu langsung satu jam.
Mulai 10–15 menit.
Letakkan HP.
Duduk.
Baca Al-Qur’an.
5. Mulai dari target yang realistis
Kalau lima menit terasa paling mungkin, mulai lima menit.
Jangan merasa harus langsung membaca banyak hanya karena melihat orang lain mampu membaca lebih lama.
6. Baca beserta maknanya
Sesekali berhenti.
Baca terjemahan.
Cari penjelasan tafsir yang terpercaya.
Sebab ketika kita memahami pesan ayat, hubungan dengan Al-Qur’an bisa menjadi lebih hidup.
7. Jangan menunggu khusyuk sempurna
Kita tidak perlu menunggu hati menjadi sempurna untuk kembali kepada Al-Qur’an.
Mulai dari kondisi yang ada.
Kemudian terus perbaiki.
13. Tantangan 7 Hari: Tiga Menit Sebelum Scroll
Kalau selama ini scrolling terasa begitu mudah, coba lakukan eksperimen kecil.
Bukan tantangan yang berat.
Hanya tiga menit.
Selama tujuh hari, lakukan ini:
Sebelum membuka media sosial, baca Al-Qur’an selama tiga menit.
Tiga menit saja.
Tidak perlu satu juz.
Tidak perlu satu jam.
Tidak perlu memaksakan diri.
Baca beberapa ayat.
Kemudian, setelah selesai, silakan menggunakan HP untuk kebutuhan yang memang ingin dilakukan.
Tujuan latihan ini bukan menghitung siapa yang lebih banyak membaca Al-Qur’an daripada scrolling.
Tujuannya adalah melatih sebuah kesadaran:
“Saya yang memilih ke mana perhatian saya pergi.”
Bukan sebaliknya.
14. Coba Hitung: Kalau Satu Jam Sehari Hilang, Apa yang Terjadi?
Mari kita gunakan angka sederhana.
Misalnya seseorang menghabiskan satu jam setiap hari untuk scrolling tanpa tujuan.
Dalam seminggu:
7 jam.
Dalam sekitar satu bulan:
30 jam.
Tentu, angka ini hanya ilustrasi.
Tetapi ia cukup untuk membuat kita berhenti sejenak.
Tiga puluh jam.
Bayangkan jika sebagian saja dialihkan untuk:
- membaca Al-Qur’an;
- memahami tafsir;
- belajar hadis;
- membaca kitab;
- belajar bahasa Arab;
- membantu keluarga;
- berolahraga;
- bekerja;
- atau tidur dan beristirahat dengan baik.
Sekali lagi, persoalannya bukan bahwa semua waktu santai harus diubah menjadi belajar agama.
Bukan begitu.
Kita hanya sedang belajar menempatkan waktu pada tempat yang tepat.
Kadang-kadang kita bukan kekurangan waktu.
Kita hanya perlu mengambil kembali waktu yang selama ini tercecer.
15. Jangan Menunggu Menjadi Sempurna untuk Kembali kepada Al-Qur’an
Mungkin ada yang membaca artikel ini lalu berpikir:
“Saya sudah terlalu jauh.”
Jangan berhenti di pikiran itu.
Kalau hari ini baru mampu membaca satu halaman, baca satu halaman.
Kalau baru beberapa ayat, baca beberapa ayat.
Kalau hari ini terlewat, mulai lagi besok.
Jangan biarkan rasa bersalah berubah menjadi alasan untuk semakin jauh.
Ada perbedaan antara:
“Saya belum baik.”
dan
“Karena saya belum baik, saya tidak perlu kembali.”
Yang kedua justru membuat kita semakin jauh.
Maka jangan menunggu diri menjadi sempurna.
Kembalilah dalam keadaan kita sekarang.
Pelan-pelan.
Sedikit demi sedikit.
Teruskan.
Pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah saya sudah sempurna?”
Tetapi:
“Hari ini, apakah saya sedang bergerak mendekat kepada Allah?”
Scroll tiga jam bisa berlalu seperti beberapa menit.
Sementara tiga menit membaca Al-Qur’an terasa begitu panjang.
Fenomena ini layak direnungkan.
Bukan untuk mengatakan bahwa semua media sosial itu haram.
Bukan pula untuk menganggap setiap orang yang sulit membaca Al-Qur’an sebagai orang yang malas atau buruk.
Tidak sesederhana itu.
Namun ada satu hal yang patut kita evaluasi:
ke mana waktu dan perhatian kita pergi setiap hari?
Allah Ta’ala bersumpah dengan masa dalam Surah Al-‘Ashr. Dalam penjelasan Tafsir Jalalain, ayat tersebut mengingatkan manusia tentang kerugian dan pengecualian bagi orang-orang yang mengisi hidup dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dua nikmat yang sering disia-siakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.
Dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kita untuk menghisab diri sebelum tiba waktunya kita dihisab.
Maka malam ini, sebelum kembali membuka media sosial, coba lakukan sesuatu yang sederhana.
Letakkan HP.
Ambil mushaf.
Baca beberapa ayat.
Tidak perlu menunggu mood.
Tidak perlu menunggu menjadi orang yang sangat saleh.
Mulai saja.
Mungkin tiga menit terasa kecil.
Sangat kecil.
Tetapi bisa jadi, dari tiga menit itulah sebuah kebiasaan baru tumbuh.
Dan bisa jadi pula, dari beberapa ayat yang kita baca hari ini, hati yang lama sibuk dengan dunia perlahan kembali menemukan jalan pulang kepada Al-Qur’an.
FAQ: Scroll, Media Sosial, dan Membaca Al-Qur’an
Mengapa saya lebih suka scrolling daripada membaca Al-Qur’an?
Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah pola perhatian. Scrolling menghadirkan konten yang terus berganti dan relatif mudah diikuti, sedangkan membaca Al-Qur’an membutuhkan perhatian yang lebih tenang dan disengaja.
Karena itu, seseorang yang terbiasa dengan distraksi cepat mungkin perlu melatih kembali kemampuan untuk duduk, diam, dan fokus.
Ini bukan alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an.
Justru menjadi alasan untuk mulai melatihnya sedikit demi sedikit.
Apakah bermain media sosial itu haram dalam Islam?
Tidak semua penggunaan media sosial otomatis haram.
Media sosial merupakan sarana. Hukum penggunaannya berkaitan dengan apa yang dilakukan melalui sarana tersebut.
Jika digunakan untuk pekerjaan halal, silaturahmi, belajar, mencari ilmu, menyebarkan manfaat, atau kebutuhan mubah lainnya, tentu tidak bisa disamakan dengan penggunaan untuk perkara yang haram.
Karena itu, yang perlu diperhatikan adalah konten, tujuan, cara penggunaan, dan dampaknya terhadap kewajiban.
Bagaimana cara agar istiqamah membaca Al-Qur’an?
Mulailah dari target yang realistis.
Beberapa ayat.
Satu halaman.
Lima menit.
Yang penting memiliki waktu yang jelas dan berusaha menjaganya.
Setelah kebiasaan terbentuk, target dapat ditingkatkan secara bertahap.
Jangan membuat target yang terlalu berat hingga akhirnya berhenti total.
Apakah membaca Al-Qur’an sedikit tetapi rutin lebih baik?
Konsistensi merupakan prinsip penting dalam amal. Namun, jangan menjadikan ungkapan “sedikit tetapi rutin” sebagai alasan untuk sengaja membatasi amal ketika seseorang sebenarnya mampu menambahnya.
Yang lebih tepat adalah membangun kebiasaan yang berkelanjutan, kemudian meningkatkan kualitas dan kuantitasnya sesuai kemampuan.
Apakah menggunakan HP untuk membaca Al-Qur’an tetap termasuk memanfaatkan teknologi untuk kebaikan?
Ya, penggunaan HP untuk membaca Al-Qur’an, mempelajari tafsir, mendengarkan kajian, atau mempelajari ilmu agama dapat menjadi bentuk pemanfaatan teknologi untuk perkara yang bermanfaat.
Namun tetap perlu memperhatikan adab dan fokus agar aktivitas tersebut tidak berubah menjadi pintu menuju distraksi yang tidak perlu.
Barangkali malam ini kita tidak perlu membuat janji besar.
Tidak perlu berkata:
“Mulai besok saya tidak akan pernah scrolling lagi.”
Cukup buat satu keputusan kecil.
Sebelum scrolling, baca Al-Qur’an beberapa menit.
Kalau berhasil, ulangi besok.
Kalau gagal, jangan menyerah.
Mulai lagi.
Karena perjalanan kembali kepada Al-Qur’an tidak selalu dimulai dengan langkah besar.
Kadang ia dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana:
meletakkan HP, membuka mushaf, lalu membaca satu ayat dengan hati yang benar-benar hadir.
Referensi Utama
- Al-Qur’an, QS. Al-‘Ashr: 1–3.
- Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir Surat Al-‘Ashr.
- Shahih al-Bukhari, Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412 — hadis tentang kesehatan dan waktu luang. Derajat: Shahih.
- Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi – hadis “Min husni Islamil-mar’i tarkuhu ma la ya‘nih.”
- Sunan at-Tirmidzi, hadis tentang meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.
- Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, no. 633 – atsar Umar bin Khattab tentang muhasabah. Atsar tersebut diperlakukan sebagai perkataan sahabat, bukan hadis Nabi ﷺ.


