Mengapa Seseorang Bisa Merasa Lebih Baik daripada Orang Lain?
Pernahkah kita diam-diam merasa lebih pintar, lebih berilmu, atau lebih dewasa dibandingkan orang lain? Mungkin kita merasa pemahaman agama kita lebih baik, cara berpikir kita lebih rasional, atau sikap kita jauh lebih bermoral daripada orang-orang di sekitar.
Perasaan seperti ini tidak selalu muncul dalam bentuk kesombongan yang mudah dikenali. Terkadang, ia bersembunyi di balik pikiran-pikiran kecil: menganggap pendapat orang lain dangkal, merasa heran melihat seseorang melakukan kesalahan yang menurut kita sepele, atau diam-diam merasa lebih pantas dihargai karena memiliki kelebihan tertentu.
Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya secara terbuka. Namun, dalam hati, ada kecenderungan untuk menempatkan diri di posisi yang lebih tinggi dan memandang orang lain dari posisi yang lebih rendah.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dapat dikaji melalui beberapa konsep, seperti social comparison atau perbandingan sosial dan self-serving bias, yaitu kecenderungan menilai diri sendiri secara menguntungkan. Sementara dalam kajian akhlak Islam, perasaan mengagumi diri secara berlebihan dan memandang rendah orang lain berkaitan dengan penyakit hati yang dikenal sebagai ‘ujub dan takabbur.
Keduanya memperlihatkan bahwa persoalan merasa lebih baik daripada orang lain bukan sekadar masalah perilaku. Ada proses penilaian diri, cara memandang sesama, dan sikap batin yang perlu diperhatikan.
1. Mengapa Seseorang Bisa Merasa Lebih Baik daripada Orang Lain?
Perasaan superioritas tidak selalu ditunjukkan melalui ucapan yang merendahkan atau sikap yang arogan. Bisa jadi seseorang terlihat biasa saja, tetapi memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Ada beberapa faktor psikologis yang dapat membantu menjelaskan kecenderungan tersebut.
A. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Tanpa disadari, manusia kerap menjadikan orang lain sebagai tolok ukur untuk menilai dirinya sendiri. Kita membandingkan kemampuan, pengetahuan, penampilan, pencapaian, bahkan kualitas kepribadian.
Dalam psikologi, proses ini dikenal dengan istilah social comparison. Psikolog Leon Festinger membahas teori perbandingan sosial secara sistematis dalam penelitiannya yang diterbitkan pada 1954.
Menurut teori tersebut, manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkannya terhadap orang lain.
Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa dirinya sangat cerdas setelah berdiskusi dengan orang yang memiliki pengetahuan lebih terbatas. Pengalaman tersebut kemudian membuatnya merasa memiliki kemampuan intelektual yang jauh di atas rata-rata.
Padahal, perbandingan dengan satu atau dua orang tidak cukup untuk menggambarkan kualitas seseorang secara keseluruhan.
Seseorang bisa unggul dalam pendidikan, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang baik. Ada orang yang menguasai banyak ilmu agama, tetapi masih kesulitan mengendalikan emosi. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki pendidikan tinggi mungkin justru mempunyai ketulusan, kesabaran, dan kepekaan sosial yang tidak dimiliki orang lain.
Di sinilah perbandingan sosial dapat berubah menjadi persoalan.
Awalnya, kita hanya ingin mengetahui posisi dan kemampuan diri sendiri. Namun, perlahan-lahan, kebiasaan membandingkan itu membuat kita merasa lebih unggul dan mulai memandang orang lain sebagai pribadi yang lebih rendah.
B. Melihat Kelebihan Diri Sendiri, tetapi Sibuk Menghitung Kekurangan Orang Lain
Ada satu kecenderungan yang menarik dalam cara manusia menilai dirinya: kita sering kali lebih mudah memahami alasan di balik kesalahan sendiri daripada memahami alasan di balik kesalahan orang lain.
Ketika melakukan kekeliruan, kita mungkin berkata, “Waktu itu saya sedang banyak masalah. Wajar kalau saya tidak bisa berpikir jernih.”
Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan serupa, penilaian kita bisa berubah drastis. “Orang itu memang tidak bertanggung jawab.”
Mengapa standar penilaian tersebut berbeda?
Salah satu konsep psikologi yang dapat digunakan untuk memahami kecenderungan ini adalah self-serving bias. Istilah ini merujuk pada pola atribusi ketika seseorang cenderung menghubungkan keberhasilannya dengan kemampuan atau usaha pribadi, sementara kegagalannya lebih mudah dikaitkan dengan keadaan di luar dirinya.
Jika tidak disadari, pola tersebut dapat membuat seseorang memiliki gambaran diri yang terlalu positif.
Ia selalu menemukan alasan untuk memaklumi kekurangannya sendiri, tetapi tidak memberikan kelonggaran yang sama ketika menilai orang lain. Akibatnya, kesalahan pribadi terasa kecil, sedangkan kesalahan orang lain tampak begitu besar.
Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya secara jujur.
C. Merasa Lebih Unggul karena Ilmu, Prestasi, dan Kedudukan
Kesombongan tidak selalu lahir dari kekayaan, jabatan, atau popularitas. Terkadang, justru pengetahuan yang dimiliki seseorang menjadi sumber munculnya perasaan superior.
Misalnya, seseorang baru saja mempelajari filsafat. Ia mulai mengenal berbagai teori, membaca pemikiran para filsuf, dan memahami sejumlah persoalan yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya. Namun, alih-alih menjadi lebih terbuka, ia justru mulai menganggap orang yang tidak mempelajari filsafat sebagai pribadi yang dangkal.
Hal serupa bisa terjadi dalam bidang agama.
Seseorang yang menguasai banyak kitab mungkin merasa lebih saleh daripada orang yang pengetahuannya terbatas. Ada pula orang yang merasa lebih rasional karena mempelajari sains, lalu memandang rendah orang-orang yang tidak memiliki latar belakang akademis serupa.
Padahal, pengetahuan yang sesungguhnya seharusnya membantu manusia menyadari betapa luasnya hal-hal yang belum ia ketahui.
Semakin jauh seseorang menjelajahi suatu bidang ilmu, semakin banyak pula persoalan yang akan ditemukannya. Ia akan menyadari bahwa pengetahuannya masih terbatas dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan sudut pandang yang dimilikinya.
Karena itu, ilmu semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan perasaan bahwa diri sendiri sudah berada di atas orang lain.
D. Perasaan Lebih Unggul Terkadang Berkaitan dengan Rasa Tidak Aman
Ada situasi ketika seseorang begitu ingin terlihat hebat, bukan semata-mata karena ia merasa percaya diri, melainkan karena sedang berusaha menutupi perasaan tidak aman terhadap dirinya sendiri.
Dalam psikologi, perilaku semacam ini dapat dikaji melalui konsep kompensasi psikologis. Seseorang mungkin berusaha mengatasi perasaan rendah diri dengan membangun citra bahwa dirinya lebih hebat, lebih cerdas, atau lebih berharga daripada orang lain.
Contohnya, seseorang sangat sulit menerima kritik. Setiap masukan terasa seperti serangan terhadap harga dirinya. Alih-alih mempertimbangkan isi kritik, ia justru menyerang pribadi orang yang menyampaikannya.
Dengan merendahkan orang lain, ia mungkin merasa kedudukannya kembali aman.
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan persoalan ini. Tidak semua orang yang menunjukkan sikap superior memiliki rasa rendah diri tersembunyi. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga tidak tepat jika kita langsung memberikan diagnosis psikologis hanya berdasarkan satu atau dua sikap seseorang.
2. Perbedaan ‘Ujub dan Takabbur dalam Islam
Dalam pembahasan akhlak Islam, perasaan menganggap diri lebih baik daripada orang lain berkaitan erat dengan dua penyakit hati: ‘ujub dan takabbur.
Keduanya memang berhubungan, tetapi memiliki penekanan yang berbeda. Memahami perbedaannya penting agar kita tidak mencampuradukkan rasa kagum terhadap diri sendiri dengan sikap merendahkan orang lain.
A. Apa Itu ‘Ujub?
Secara sederhana, ‘ujub adalah perasaan kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri karena menganggap memiliki kelebihan tertentu.
Seseorang bisa terjangkit ‘ujub karena kecerdasannya, keluasan ilmu, banyaknya ibadah, kekayaan, penampilan, atau pencapaian yang berhasil diraih.
Persoalannya bukan terletak pada kesadaran bahwa dirinya memiliki kelebihan. Mengetahui kemampuan diri sendiri tentu bukan sesuatu yang tercela. Yang menjadi masalah adalah ketika kelebihan tersebut membuat seseorang terlalu terpukau dengan dirinya hingga melupakan bahwa semua itu merupakan nikmat dari Allah.
Bayangkan seseorang yang berhasil menguasai banyak kitab keagamaan. Ia merasa bangga dengan pencapaiannya, tetapi perlahan-lahan muncul anggapan bahwa dirinya memiliki kedudukan istimewa dibandingkan orang lain.
Ia mungkin belum secara terang-terangan merendahkan siapa pun. Akan tetapi, hatinya sudah dipenuhi kekaguman berlebihan terhadap dirinya sendiri.
Inilah salah satu bentuk ‘ujub yang perlu diwaspadai.
B. Apa Itu Takabbur?
Jika ‘ujub berkaitan dengan kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, takabbur memiliki unsur tambahan: memandang rendah orang lain dan menolak kebenaran.
Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat kesombongan melalui sabdanya:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim, no. 91)
Hadis ini memberikan ukuran yang sangat penting. Kesombongan bukan sekadar persoalan pakaian mahal, penampilan mewah, gaya bicara yang tegas, atau rasa percaya diri yang tinggi.
Ada dua unsur utama yang perlu diperhatikan:
- بَطَرُ الْحَقِّ (Menolak kebenaran): enggan menerima sesuatu yang benar karena merasa dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
- غَمْطُ النَّاسِ (Merendahkan manusia): memandang orang lain secara hina atau menganggap mereka tidak layak dihormati.
Misalnya, seseorang tidak mau menerima nasihat karena orang yang menyampaikannya dianggap lebih rendah dalam pendidikan atau kedudukan sosial. Baginya, orang tersebut tidak pantas memberikan koreksi.
Dalam situasi lain, ia mungkin merasa tidak perlu menghormati orang miskin, meremehkan orang yang pengetahuannya terbatas, atau menganggap semua orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai orang bodoh.
Sikap semacam inilah yang menjadi bagian dari hakikat takabbur sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ.
3. Dalil Al-Qur’an tentang Larangan Merasa Lebih Baik daripada Orang Lain
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan dan sikap membanggakan diri. Peringatan ini bukan hanya berkaitan dengan perilaku yang terlihat, tetapi juga menyentuh cara manusia menilai dirinya sendiri.
A. Jangan Menganggap Diri Paling Suci
Allah SWT berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya terlalu mudah memberikan penilaian tinggi terhadap kualitas dirinya sendiri.
Seseorang mungkin merasa lebih saleh karena rajin beribadah. Ada pula yang merasa lebih baik karena menguasai banyak ilmu agama atau berhasil menjauhi sejumlah perbuatan dosa.
Namun, pernahkah kita benar-benar mengetahui kedudukan diri sendiri di hadapan Allah?
Kita hanya mampu melihat sebagian kecil dari kehidupan manusia. Kita tidak mengetahui secara sempurna tingkat keikhlasan seseorang, perjuangan batinnya, dosa yang telah ia tinggalkan, maupun bagaimana akhir kehidupannya kelak.
Bisa jadi seseorang yang hari ini terlihat memiliki banyak kekurangan justru memiliki ketulusan yang tidak kita ketahui. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah baik mungkin masih menyimpan penyakit hati yang belum disadarinya.
Karena itu, tugas manusia adalah memperbaiki diri, bukan sibuk memastikan bahwa dirinya lebih suci daripada orang lain.
B. Kemuliaan Tidak Ditentukan oleh Keturunan dan Status Sosial
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengoreksi cara pandang manusia yang sering kali menjadikan perbedaan sosial sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Kekayaan, keturunan, jabatan, suku, dan status sosial bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Al-Qur’an justru menegaskan bahwa kemuliaan berkaitan dengan ketakwaan.
Namun, ada satu hal yang perlu direnungkan: apakah kita benar-benar mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara manusia?
Ketakwaan bukan sesuatu yang dapat dipastikan hanya melalui penampilan luar. Kita mungkin melihat seseorang rajin beribadah, tetapi tidak mengetahui secara utuh kualitas keikhlasannya. Kita juga mungkin melihat seseorang yang hidup sederhana dan tidak banyak dikenal, padahal ia memiliki amal yang sangat berharga di sisi Allah.
Dengan demikian, ayat ini seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menilai kedudukan dirinya maupun orang lain.
C. Allah Tidak Menyukai Orang yang Sombong
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya:
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)
Ayat ini merupakan bagian dari nasihat Luqman kepada anaknya. Di dalamnya terdapat peringatan agar manusia tidak memperlihatkan sikap angkuh ketika berinteraksi dengan sesama.
Menariknya, kesombongan tidak hanya dapat ditemukan dalam isi pikiran. Ia juga bisa terlihat dari perilaku sehari-hari.
Contohnya, seseorang enggan menyapa orang yang dianggap tidak sederajat. Ia memalingkan wajah ketika berhadapan dengan orang yang lebih sederhana, atau merasa terlalu penting untuk bergaul dengan orang-orang tertentu.
Barangkali ia tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa dirinya lebih mulia. Akan tetapi, cara memperlakukan orang lain memperlihatkan bagaimana ia memandang kedudukan dirinya sendiri.
Islam mengajarkan bahwa kelebihan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur dan bertanggung jawab, bukan merasa berhak merendahkan manusia lainnya.
4. Peringatan Rasulullah ﷺ tentang Bahaya Kesombongan
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras mengenai kesombongan.
Beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.”
Kemudian seorang laki-laki bertanya:
إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً
“Sesungguhnya seseorang senang apabila pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Rasulullah ﷺ menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
(HR. Muslim, no. 91)
Hadis ini menarik karena Rasulullah ﷺ meluruskan pemahaman tentang kesombongan yang mungkin keliru dipahami oleh sebagian orang.
Memakai pakaian bagus, menyukai keindahan, merawat penampilan, dan memiliki rasa percaya diri bukanlah kesombongan dengan sendirinya.
Seseorang boleh memiliki prestasi, mengembangkan kemampuan, bahkan mengakui bahwa dirinya unggul dalam bidang tertentu. Semua itu tidak otomatis menjadikannya sombong.
Persoalannya terletak pada sikap batin dan perilakunya: apakah ia masih bersedia menerima kebenaran? Apakah ia tetap menghormati orang lain? Ataukah kelebihan yang dimilikinya justru membuatnya merasa berhak memandang rendah sesama?
Di sinilah batas antara kepercayaan diri dan kesombongan perlu dipahami.
5. Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Cara Memandang Orang Lain
Imam Abu Hamid al-Ghazali merupakan salah satu ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pembahasan penyakit hati. Dalam karya-karyanya, beliau menjelaskan bagaimana ‘ujub dan takabbur dapat merusak hubungan manusia dengan Allah maupun sesama manusia.
Dalam pembahasan tentang kerendahan hati, terdapat nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali:
بَلْ يَنْبَغِي لَكَ أَلَّا تَنْظُرَ إِلَى أَحَدٍ إِلَّا وَتَرَى أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْكَ
Artinya:
“Seharusnya engkau tidak memandang seseorang kecuali dengan melihat bahwa ia lebih baik daripada dirimu.”
Nasihat ini mengajak kita mengubah cara memandang orang lain. Bukan berarti semua tindakan manusia harus dianggap benar, atau kita tidak boleh membedakan perilaku yang baik dan buruk.
Pesan utamanya adalah menyadari bahwa pengetahuan kita tentang keadaan batin seseorang sangat terbatas.
Ketika melihat seseorang melakukan banyak kesalahan, kita tidak mengetahui bagaimana perjalanan hidupnya setelah itu. Bisa jadi ia bertobat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki diri, dan memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
Sebaliknya, kita juga tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita sendiri. Seseorang yang hari ini merasa memiliki banyak kelebihan belum tentu mampu mempertahankan kebaikan tersebut sampai akhir hayatnya.
Dengan kata lain, manusia tidak memiliki alasan yang cukup untuk memastikan bahwa dirinya pasti lebih baik daripada orang lain di hadapan Allah.
Nasihat ini bukan ajakan untuk mengabaikan penilaian moral. Kita tetap perlu membedakan kebenaran dan kesalahan. Namun, ketika menilai pribadi seseorang, kita harus menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui.
Kerendahan hati tumbuh ketika seseorang mampu melihat keterbatasan dirinya sendiri, bukan ketika ia terus-menerus mencari kekurangan orang lain.
6. Bagaimana Cara Menghilangkan Perasaan Lebih Baik daripada Orang Lain?
Mengenali kesombongan saja belum cukup. Seseorang perlu melatih dirinya agar tidak terus-menerus terjebak dalam kebiasaan membandingkan, menghakimi, dan membanggakan diri.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
A. Ingat bahwa Setiap Kelebihan Merupakan Karunia Allah
Kecerdasan, kekayaan, kesehatan, pengetahuan, dan keberhasilan memang dapat diperoleh melalui usaha. Namun, manusia tidak sepenuhnya mengendalikan semua faktor yang memungkinkan dirinya meraih hal-hal tersebut.
Ada kemampuan yang diberikan sejak lahir, kesempatan yang datang tanpa diduga, lingkungan yang mendukung, serta berbagai nikmat yang tidak selalu disadari.
Allah SWT berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Artinya:
“Segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)
Ayat ini mengingatkan bahwa kelebihan yang kita miliki bukan alasan untuk membanggakan diri secara berlebihan.
Ketika menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, seharusnya muncul rasa syukur dan tanggung jawab. Pengetahuan digunakan untuk memberikan manfaat, kekayaan digunakan untuk membantu, dan kemampuan digunakan untuk melakukan kebaikan.
Bukan justru dijadikan alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
B. Belajar Menerima Kebenaran dari Siapa Pun
Salah satu ciri takabbur yang dijelaskan Rasulullah ﷺ adalah menolak kebenaran.
Karena itu, salah satu latihan terpenting untuk melawan kesombongan adalah membiasakan diri menerima nasihat, sekalipun datang dari orang yang lebih muda, memiliki pendidikan lebih rendah, atau tidak mempunyai kedudukan sosial yang tinggi.
Jangan sampai kita menolak sebuah pendapat hanya karena tidak menyukai orang yang menyampaikannya.
Kebenaran tidak berubah menjadi kesalahan hanya karena datang dari seseorang yang kita anggap kurang berpengalaman. Sebaliknya, pendapat kita juga tidak otomatis benar hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan atau didukung oleh gelar akademik.
Orang yang benar-benar ingin belajar harus bersedia mengoreksi dirinya sendiri.
C. Berhenti Menilai Manusia Hanya dari Kekurangannya
Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, kita sering kali langsung membentuk kesimpulan tentang kepribadiannya.
Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada satu perilaku yang terlihat.
Seseorang mungkin memiliki kekurangan dalam pendidikan, tetapi unggul dalam kesabaran. Ada yang kurang mampu berbicara dengan baik, tetapi sangat tulus dalam membantu orang lain. Ada pula yang terlihat biasa saja, tetapi memiliki perjuangan hidup yang tidak pernah kita ketahui.
Belajar melihat manusia secara lebih utuh akan membantu kita mengurangi kebiasaan meremehkan orang lain.
Ini bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Kita tetap boleh mengkritik tindakan yang keliru, tetapi tidak perlu mengubah kritik terhadap perilaku menjadi penghinaan terhadap pribadi seseorang.
D. Perbanyak Muhasabah dan Evaluasi Diri
Muhasabah merupakan sarana untuk memeriksa keadaan diri sendiri. Melalui proses ini, kita belajar melihat kekurangan yang mungkin selama ini tertutupi oleh perhatian berlebihan terhadap kesalahan orang lain.
Cobalah sesekali mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri:
- Apakah saya benar-benar memahami kelebihan yang saya miliki, atau hanya terlalu membanggakannya?
- Mengapa saya mudah tersinggung ketika orang lain memberikan kritik?
- Apakah saya pernah merendahkan seseorang karena tingkat pendidikan, pekerjaan, atau status sosialnya?
- Apakah ilmu yang saya pelajari membuat saya semakin bijaksana, atau justru semakin mudah menghakimi?
- Apakah saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperbaiki diri atau mencari kesalahan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa sederhana. Namun, kejujuran dalam menjawabnya dapat membantu kita mengenali kecenderungan yang selama ini tidak disadari.
Sebab, terkadang persoalan terbesar bukanlah ketidaktahuan kita terhadap kesalahan orang lain, melainkan ketidakmampuan melihat kesalahan sendiri.
Mengapa seseorang bisa merasa lebih baik daripada orang lain? Jawabannya tidak selalu sederhana. Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan perbandingan sosial, bias dalam menilai diri sendiri, kebutuhan mempertahankan citra positif, maupun mekanisme kompensasi psikologis.
Sementara dalam perspektif akhlak Islam, perasaan mengagumi diri secara berlebihan dan memandang rendah orang lain perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi ‘ujub dan takabbur.
Keduanya memiliki penekanan yang berbeda. ‘Ujub membuat seseorang terlalu kagum terhadap kelebihan dirinya, sedangkan takabbur melibatkan sikap merendahkan manusia lain dan menolak kebenaran.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak menganggap dirinya paling suci. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa kesombongan bukan terletak pada bagusnya penampilan, melainkan pada sikap menolak kebenaran dan merendahkan sesama.
Pada akhirnya, memiliki kelebihan bukanlah sesuatu yang harus disangkal. Kita boleh menjadi pintar, berilmu, kaya, berprestasi, dan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang lain.
Namun, semua kelebihan itu semestinya membuat kita semakin bersyukur dan menyadari tanggung jawab, bukan merasa berhak menempatkan diri lebih tinggi daripada manusia lainnya.
Kita memang bisa melihat kelebihan diri sendiri dan kekurangan orang lain. Akan tetapi, ada dua hal yang tidak pernah benar-benar kita ketahui: seluruh keadaan batin orang lain dan bagaimana akhir kehidupan kita sendiri.


