Ramadan selalu datang dengan harapan besar.
Kita ingin lebih rajin shalat malam, khatam Al-Qur’an, sedekah rutin, dzikir tak putus, dan doa yang panjang. Tapi jujur saja – tidak sedikit dari kita yang semangat di awal, lalu pelan-pelan kendor di tengah jalan.
Masalahnya sering bukan karena kurang iman, tapi karena target ibadah yang terlalu tinggi dan tidak realistis.
Kenapa Target Ibadah Itu Penting?
Target ibadah bukan untuk membebani diri, tapi untuk:
- Membantu kita lebih terarah
- Menghindari ibadah yang hanya ikut suasana
- Menjaga konsistensi, bukan sekadar euforia awal Ramadan
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini jadi kunci utama dalam menyusun target ibadah Ramadan.
Kesalahan Umum Saat Menentukan Target Ibadah
Sebelum menyusun target, mari jujur pada diri sendiri. Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Target terlalu idealis
Baru hari pertama sudah pasang target khatam Qur’an 3 kali, tahajud setiap malam, sedekah besar tiap hari. - Tidak menyesuaikan kondisi diri
Punya pekerjaan berat, jadwal padat, atau tanggung jawab keluarga, tapi targetnya seperti orang yang full di masjid. - Fokus pada jumlah, bukan kebiasaan
Akhirnya ibadah terasa berat dan melelahkan, bukan menenangkan.
Prinsip Menyusun Target Ibadah yang Realistis
Agar Ramadan benar-benar mengubah kita, pegang 4 prinsip ini:
1. Mulai dari yang wajib, lalu perbaiki kualitasnya
Contoh target realistis:
- Shalat lima waktu tepat waktu
- Lebih khusyuk, walau rakaatnya sama
- Menjaga shalat berjamaah semampunya
Kadang, shalat wajib yang dijaga dengan baik jauh lebih berat daripada banyak ibadah sunnah tapi bolong.
2. Sedikit tapi rutin
Daripada:
- Tilawah 5 juz di awal Ramadan lalu berhenti
Lebih baik:
- ½–1 juz per hari, tapi konsisten sampai akhir
Target sederhana tapi stabil jauh lebih bernilai di sisi Allah.
3. Sesuaikan dengan aktivitas harianContoh target yang membumi:
- Tilawah setelah Subuh atau sebelum tidur
- Dzikir pagi–petang walau singkat
- Sedekah kecil tapi rutin (uang, tenaga, atau senyum)
Ramadan bukan alasan untuk berhenti hidup, tapi menghidupkan ibadah di tengah kehidupan.
4. Sisakan ruang untuk fleksibilitas
Ada hari capek, sakit, atau mental drop – itu manusiawi.
Jangan jadikan satu hari gagal sebagai alasan menyerah sebulan penuh.
Contoh Target Ibadah Ramadan yang Realistis
Berikut contoh target yang bisa disesuaikan:
Tilawah Al-Qur’an
- 1 juz per hari
atau - 5 halaman setelah Subuh + 5 halaman setelah Isya
Shalat Sunnah
- Rawatib minimal
- Tahajud 2 rakaat, bukan harus panjang
Dzikir & Doa
- Dzikir pagi dan petang
- Doa pendek tapi sadar makna
Sedekah
- Nominal kecil tapi rutin
- Membantu orang sekitar
- Berbagi makanan atau tenaga
Jangan Lupa: Tujuan Ramadan Bukan Sekadar Banyak Amal
Ramadan bukan lomba siapa paling sibuk ibadah, tapi siapa yang paling berubah setelahnya.
Allah berfirman:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Jika setelah Ramadan:
- Shalat lebih terjaga
- Lisan lebih terkontrol
- Hati lebih lembut
Maka target Ramadan kita berhasil, meski terlihat sederhana.
Jangan kejar Ramadan yang sempurna.
Kejarlah Ramadan yang konsisten dan jujur dengan diri sendiri.
Lebih baik target kecil yang dijaga,
daripada target besar yang ditinggalkan di tengah jalan.


