Hartamu yang Abadi, Ketika Dunia Tak Lagi Bisa Membeli Akhirat

Bagikan :

Manusia bekerja sejak pagi hingga malam, menguras tenaga dan pikiran demi satu hal yang sering disebut “keamanan hidup”: harta. Kita merasa tenang ketika saldo bertambah, aset meningkat, dan kebutuhan dunia terpenuhi. Tidak ada yang keliru dari usaha itu. Islam tidak pernah mencela kekayaan. Namun, Islam mengingatkan satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: tidak semua harta akan tinggal bersama kita selamanya.

Pada akhirnya, semua yang kita kumpulkan di dunia akan ditinggalkan. Rumah, kendaraan, tabungan, bahkan pakaian terbaik sekalipun akan berpindah tangan. Yang ikut bersama kita hanyalah apa yang pernah kita persembahkan untuk Allah.

Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang sangat jujur dan menenangkan:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah itulah yang kekal.”
(QS. An-Nahl: 96)

Ayat ini seolah mengajak kita berhenti sejenak, lalu bertanya ke dalam diri: dari semua yang kita miliki hari ini, mana yang benar-benar akan bertahan?

Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran yang sangat sederhana namun dalam maknanya. Beliau bersabda:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَبْقَيْتَ
“Anak Adam berkata: hartaku, hartaku. Padahal tidak ada yang benar-benar menjadi miliknya kecuali apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu rusak, dan apa yang ia sedekahkan lalu kekal.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengubah cara pandang kita tentang kepemilikan. Ternyata, harta yang kita sedekahkan justru itulah yang benar-benar menjadi milik kita di sisi Allah. Sementara yang lain, meski tampak nyata di tangan, sejatinya sedang berjalan menuju kefanaan.

Dalam logika dunia, memberi berarti berkurang. Namun dalam logika langit, memberi justru menambah. Allah menjanjikan balasan yang tidak hanya berlipat, tetapi juga penuh keberkahan.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Sedekah bukan hanya tentang angka, tetapi tentang niat dan ketulusan. Bisa jadi harta yang tampak kecil di mata manusia, justru menjadi besar nilainya di hadapan Allah karena ia lahir dari hati yang ikhlas.

Harta yang abadi tidak selalu berbentuk uang. Ia bisa hadir dalam banyak rupa: membantu anak yatim agar tetap sekolah, memberi makan orang lapar, menyumbang mushaf Al-Qur’an, atau mendukung dakwah agar kebenaran terus hidup. Setiap kebaikan yang mengalir setelah kita tiada akan terus menambah timbangan amal.

Inilah yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai amal jariyah:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Betapa indahnya jika harta yang kita miliki hari ini berubah menjadi cahaya yang menerangi alam kubur kelak.

Islam tidak meminta kita miskin. Islam hanya meminta agar harta tidak menguasai hati. Ketika harta berada di tangan dan bukan di dalam dada, saat itulah ia menjadi sarana menuju keabadian, bukan sumber kesengsaraan.

Ada riwayat dari atsar yang menyebutkan:

إِنَّمَا الْمَالُ عَارِيَةٌ، وَالدِّينُ دَيْنٌ
“Sesungguhnya harta hanyalah titipan, sedangkan agama adalah hutang (yang harus ditunaikan).”

Maka pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak harta yang kita miliki”, tetapi “sejauh mana harta itu sudah kita bawa menghadap Allah”.

Hartamu yang abadi bukan yang tersimpan rapi di rekening, tetapi yang telah kau titipkan di sisi Allah. Ia mungkin tak terlihat hari ini, namun kelak akan menjadi penyelamat di hari ketika tidak ada lagi yang berguna kecuali amal saleh.

Semoga Allah menjadikan harta kita sebagai jalan kebaikan, bukan sebagai penghalang menuju-Nya. Aamiin.

Categories