Awal Tahun, Saat Terbaik Memperbaiki Hubungan dengan Allah

2026

Bagikan :

Pergantian tahun sering kali datang tanpa suara, namun membawa pesan yang sangat dalam bagi siapa saja yang mau merenung. Angka di kalender berubah, usia berkurang, dan waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu kesiapan manusia. Dalam Islam, momen seperti ini bukan sekadar penanda administratif, melainkan pengingat lembut bahwa hubungan kita dengan Allah perlu terus diperbaiki. Awal tahun menjadi saat yang tepat untuk kembali menata hati, karena sering kali yang paling rusak dalam hidup bukan urusan dunia, tetapi hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Banyak orang merasa hidupnya sempit, gelisah, dan penuh beban, padahal secara lahiriah kebutuhan tercukupi. Dalam Islam, kegelisahan batin sering kali berakar dari jauhnya hati dengan Allah. Al-Qur’an dengan sangat jelas menggambarkan bahwa ketenangan sejati tidak bersumber dari keadaan, melainkan dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ayat ini seakan menjadi cermin di awal tahun. Sudah sejauh mana hati kita dekat dengan Allah? Ataukah selama ini kita lebih sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara hubungan dengan Allah dibiarkan retak perlahan tanpa disadari? Awal tahun mengajak kita untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan mengakui bahwa hati juga butuh perawatan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa baik dan rusaknya kehidupan seorang hamba sangat bergantung pada kondisi hatinya. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Memperbaiki hubungan dengan Allah sejatinya adalah memperbaiki hati. Awal tahun adalah waktu yang jujur untuk mengakui dosa, kelalaian, dan jarak yang mungkin telah tercipta akibat maksiat yang diremehkan. Islam tidak pernah mengajarkan keputusasaan. Justru, pintu taubat selalu terbuka, kapan pun seorang hamba ingin kembali. Allah berfirman dengan penuh kasih sayang:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini seperti undangan khusus bagi siapa saja yang ingin mengawali tahun dengan hati yang bersih. Memperbaiki hubungan dengan Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran. Taubat yang tulus, meski disertai kelemahan, lebih dicintai Allah daripada amal besar yang dipenuhi kesombongan.

Para sahabat Nabi ﷺ sangat peka terhadap hubungan mereka dengan Allah. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengguncang:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang.”

Atsar ini relevan setiap waktu, namun terasa sangat kuat di awal tahun. Sebab orang beriman tidak menunggu musibah atau teguran keras untuk kembali kepada Allah. Ia menjadikan waktu sebagai pengingat, dan pergantian tahun sebagai alarm ruhani.

Ulama besar seperti Yahya bin Mu’adz rahimahullah juga menegaskan bahwa rusaknya hubungan dengan Allah adalah sebab utama kerasnya hati. Ia berkata:

مَا جَفَّتِ الدُّمُوعُ إِلَّا لِقَسْوَةِ الْقُلُوبِ، وَمَا قَسَتِ الْقُلُوبُ إِلَّا لِكَثْرَةِ الذُّنُوبِ

“Air mata tidak kering kecuali karena kerasnya hati, dan hati tidak menjadi keras kecuali karena banyaknya dosa.”

(Syu’abul Iman 9/383)

Maka awal tahun adalah kesempatan untuk melunakkan kembali hati dengan istighfar, doa, dan kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan Allah. Bukan Allah yang membutuhkan amal kita, tetapi kitalah yang membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya.

Memperbaiki hubungan dengan Allah tidak selalu dimulai dari amalan besar. Ia bisa dimulai dari shalat yang lebih khusyuk, doa yang lebih jujur, atau meninggalkan satu dosa yang selama ini terasa ringan. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Awal tahun bukan tentang membuat janji yang berat, tetapi tentang langkah kecil yang konsisten. Ketika hubungan dengan Allah mulai diperbaiki, perlahan hidup pun ikut tertata. Bukan karena masalah langsung hilang, tetapi karena hati menjadi lebih kuat dalam menghadapinya.

Pergantian tahun pada akhirnya akan terus berulang, tetapi belum tentu kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikannya. Karena itu, awal tahun ini layak dijadikan titik kembali. Kembali kepada Allah dengan hati yang rendah, penuh harap, dan jujur. Sebab sebaik-baik awal dari segala perbaikan adalah ketika seorang hamba kembali memperbaiki hubungannya dengan Rabb-nya.

Categories