Bulan Ramadan selalu identik dengan puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Namun, di balik amalan-amalan populer tersebut, terdapat sejumlah amalan sunnah di bulan Ramadan yang jarang diketahui, padahal nilainya besar dan dampaknya mendalam bagi kualitas spiritual seorang Muslim.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia adalah madrasah ruhaniyah. Setiap detail sunnah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ menyimpan rahasia pembentukan jiwa.
Lalu, apa saja amalan sunnah yang sering terlewatkan itu?
1. Mengakhirkan Sahur
Banyak orang sahur terlalu awal karena takut kesiangan. Padahal termasuk sunnah adalah mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu Subuh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ
“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”
(HR. Ahmad)
Mengakhirkan sahur bukan sekadar teknis waktu, tetapi bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah) yang menghadirkan keberkahan.
2. Menyegerakan Berbuka
Sebaliknya, ketika waktu Maghrib tiba, sunnahnya adalah tidak menunda berbuka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sering kali kita justru sibuk menyiapkan hidangan, memotret makanan, atau menunggu lengkapnya menu. Padahal, cukup dengan kurma atau air, sunnah telah hidup.
3. Berbuka dengan Kurma atau Air
Amalan sederhana ini sering dianggap sepele.
Disebutkan dalam hadis:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa kurma basah sebelum shalat. Jika tidak ada, maka dengan kurma kering. Jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air.”
(HR. Abu Dawud)
Sunnah ini menunjukkan kesederhanaan sekaligus keberkahan.
4. Memperbanyak Sedekah
Ramadan adalah bulan empati. Rasulullah ﷺ dikenal paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat drastis di bulan Ramadan.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sedekah di bulan ini bukan sekadar membantu orang lain, tetapi juga membersihkan jiwa dari cinta dunia.
5. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an
Meski banyak orang membaca Al-Qur’an di Ramadan, tidak semua menyadari bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali adalah kebiasaan generasi salaf.
Dalilnya:
كَانَ جِبْرِيلُ يُعَارِضُ النَّبِيَّ ﷺ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ عَارَضَهُ بِهِ مَرَّتَيْنِ
“Jibril men-tadarus-kan Al-Qur’an bersama Nabi ﷺ sekali setiap tahun, dan pada tahun wafatnya beliau, dilakukan dua kali.”
(HR. Bukhari)
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Bukan hanya dibaca, tetapi direnungi.
6. I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir
Amalan ini semakin jarang dilakukan, padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya.
Disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
I’tikaf adalah bentuk uzlah (menyendiri) untuk memutus distraksi dunia dan fokus total kepada Allah.
7. Memperbanyak Doa Saat Berpuasa
Doa orang berpuasa termasuk doa yang tidak tertolak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ… الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ
“Tiga doa yang tidak tertolak… (di antaranya) orang yang berpuasa hingga ia berbuka.”
(HR. Tirmidzi)
Namun sering kali kita lebih sibuk menunggu adzan daripada memanjatkan doa.
Menghidupkan Sunnah, Menghidupkan Ruh Ramadan
Amalan-amalan sunnah ini mungkin terlihat kecil. Namun justru pada detail-detail kecil itulah letak keindahan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.
Ramadan bukan hanya tentang kuantitas ibadah, tetapi tentang kualitas penghambaan.
Jika kita ingin Ramadan yang berbeda, maka hidupkan sunnah-sunnah yang mungkin selama ini terabaikan.
Karena bisa jadi, keberkahan bukan terletak pada amalan besar yang jarang kita lakukan, tetapi pada sunnah sederhana yang konsisten kita jaga.
Semoga Allah menjadikan Ramadan kita penuh keberkahan dan diterima seluruh amalnya.
Aamiin.


